Fakta Tentang Nilai Gizi Tempe

posted in: Berita | 0

Tempe merupakan makanan berbahan dasar kedelai yang sangat akrab dengan masyarakat di Indonesia. Berbagai kalangan masyarakat mengkonsumsi tempe sebagai bahan makanan setiap harinya. Selain lezat, tentu alasan lainnya adalah karena kandungan gizi pada tempe. Selama ini kita mengetahui tempe sebagai sumber protein nabati yang baik. Akan tetapi, tidak hanya protein yang menjadi nilai gizi dari tempe. Dalam Booklet Tempe BNSI Tahun 2012, dijelaskan bahwa selain protein, tempe juga memiliki kandungan zat yang bermanfaat bagi tubuh yang terdiri dari : asam lemak, vitamin, mineral, dan antioksidan.

Asam Lemak

Proses fermentasi pada tempe meningkatkan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Akibat proses ini, asam lemak tidak jenuh majemuk pada tempe meningkat jumlahnya. Asam lemak tidak jenuh ini mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

Vitamin

Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1, B2, asam pantotenat, asam nikotinat, vitamin B6, dan B12. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok terjadi proses pada pembuatan tempe. Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering.

Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Mineral

Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink. Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang  akan  menguraikan  asam fitat  (yang  mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

Anti Oksidan

Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.  Dalam  kedelai  terdapat  tiga  jenis  isoflavon yaitu daidzein, glisitein, dan genistein.

Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan  isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri micrococcus luteus dan coreyne bacterium.

Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini.

Pada tahun 1991, Departemen Kesehatan Republik Indonesia (sekarang Kementerian Kesehatan) juga melakukan penelitian terhadap kandungan gizi tempe. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dengan  perincian sebagai berikut:

Sumber : Booklet Tempe BNSI Tahun 2012

http://www.bsn.go.id/uploads/download/Booklet_tempe-printed21.pdf

Leave a Reply