Selain Enak, Susu Kedelai Dari Varietas Lokal Pun Kaya Akan Nilai Gizi

posted in: Berita | 0

Susu kedelai merupakan salah satu hasil olahan kedelai yang banyak dijumpai di masyarakat. Susu yang diolah dengan cara mengekstrasi kedelai ini, memiliki nilai gizi yang baik untuk dikonsumsi. Pengolahan susu kedelai pun dapat dilakukan dengan cara dan peralatan yang sederhana. Selain dapat untuk dikonsumsi sendiri, nilai gizi yang baik pada susu kedelai membuka peluang untuk menjadi lahan usaha apabila dikembangkan dan dikelola dengan baik.

Menurut Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 30, No. 1 2008, mutu protein mutu protein susu kedelai lebih rendah dari susu sapi, tetapi tidak mengandung kolesterol. Keunggulan lainnya, susu kedelai tidak menyebabkan alergi bagi penderita lactose intolerance. Bahkan pada saat ini di pasaran sudah tersedia produk susu formula yang berbahan dasar kedelai.

 

Sumber : https://www.fitday.com/fitness-articles/nutrition/healthy-eating/6-health-benefits-of-soy-milk.html

Menurut Jurnal Litbang Pertanian, 28(3), 2009 yang berjudul Varietas Unggul Kedelai Untuk Bahan Baku Industri Pangan, Ginting dan Antarlina (2002) telah melakukan penelitian pembuatan susu kedelai dari empat varietas  dan  satu  galur kedelai dengan  cara  basah (perendaman 8 jam) dan cara kering (pengupasan kulit secara mekanis). Varietas kedelai lokal yang digunakan adalah Bromo, Burangrang, Ponorogo, Wilis, Dan Galur MSC-9102-D-1.

Hasil Penelitian Ginting dan Antarlina (2002) menunjukkan bahwa kadar protein susu kedelai yang dihasilkan dalam penelitian ini telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan, yakni minimal 2% (DSN 1995). Pengolahan cara kering menghasilkan susu kedelai dengan kadar protein 1,50-2 kali lebih tinggi dibanding cara basah, demikian pula untuk total padatan terlarut (TPT). Kadar protein tertinggi diperoleh pada susu kedelai varietas Bromo yang diolah dengan cara kering (4,89%).

Padatan terekstrak, terutama protein dan karbohidrat berkurang jumlahnya pada pengolahan cara basah akibat hilang atau tercuci selama proses perendaman. Namun, rendemen susu yang dihasilkan dengan cara kering rata-rata relatif lebih rendah 17,60% daripada dengan pengolahan cara basah.

Berdasarkan kriteria sifat sensoris (warna, aroma, rasa, dan intensitas langu), kadar protein dan TPT, susu kedelai dari varietas Lokal Ponorogo yang diolah dengan cara kering menunjukkan hasil terbaik, disusul varietas Wilis dan Bromo yang juga diolah dengan cara kering.

Menurut Adie (1997), kandungan enzim lipoksigense biji kedelai varietas Lokal Ponorogo lebih rendah dibanding Wilis, sehingga intensitas langunya juga lebih rendah. Sementara untuk varietas, kedelaiyang bijinya berwarna kuning dengankadar protein tinggi dan intensitas langu rendah sesuai untuk bahan baku susu kedelai.

 

Sumber Referensi

Adie, M.M. 1997. Identifikasi enzim lipoksigenase Pada Beberapa Genotipe Kedelai. Zuriat 8: 78−83.

Antarlina, S.S., J.S. Utomo, E. Ginting, and S.Nikkuni. 2002. Evaluation of Indonesian Soybean Varieties For Food Processing. p. 58−68. In A.A. Rahmianna and S. Nikkuni (Eds.). Soybean Production and Postharvest Technology for Innovation in Indonesia. Proceedings of RILET- JIRCAS Workshop on Soy-bean Research. Malang, 28 September 2000.

Antarlina, S.S., J.S. Utomo, E. Ginting, Widowati, S. 2009. Varietas Unggul Kedelai Untuk Bahan Baku Industri Pangan. Dalam Jurnal Litbang Pertanian, 28(3), hal 79 – 87.

DSN. 1995. Standar Nasional Indonesia Untuk Susu Kedelai. SNI 01-3830-1995. Dewan Standarisasi Nasional, Jakarta. 4 hlm

Anonim. 2008. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 30, No. 1. Malang : Balai Penelitian Tanaman Kacang – Kacangan Dan Umbi – Umbian.

Sumber Gambar

Cover : https://www.vox.com/2015/12/9/9879230/soy-milk-man-boobs-gynecomastia

 

 

Leave a Reply