Jepang Mengkonsumsi Kedelai Non GMO

posted in: Berita | 1

Di Indonesia, sebagian besar kedelai yang beredar di pasaran adalah kedelai import. Amerika dan Brazil merupakan dua negara penguasa ekspor kedelai di dunia. Kedelai dari kedua negara tersebut didominasi oleh kedelai hasil rekayasa genetik atau yang biasa kita sebut dengan kedelai GMO. Secara bisnis, kedelai GMO dianggap memberikan hasil yang lebih menguntungkan.

Kabar baiknya, hari ini masyarakat Indonesia mulai mengenal dan mengkonsumsi produk olahan berbahan dasar kedelai lokal. Pertama, kedelai lokal memiliki kandungan gizi yang bersaing dengan kedelai import. Hal ini telah dibuktikan melalui berbagai kajian penelitian ilmiah. Kedua, kedelai lokal dinilai lebih aman bagi kesehatan karena tidak ada unsur rekayasa. Selain itu dengan mengkonsumsi kedelai, berarti juga memberikan apreasiasi dan harapan yang lebih panjang untuk para petani kedelai lokal.

Ternyata tidak hanya Indonesia yang mengkonsumsi Kedelai Non GMO sebagai bahan pangan. Negara lain yang juga aktif mengkonsumsi Kedelai Non GMO adalah Jepang. Di Jepang, ada berbagai macam olahan kedelai, termasuk Tempe Rusto yang diproduksi oleh orang Indonesia asli.

Menurut Analisis Outlook Pangan 2015 – 2019, berbagai jenis makanan yang sangat disukai oleh masyarakat Jepang seperti: tahu (tofu), miso, shoyu, yuba, natto, aburaage, irimame dan sebagainya dibuat dari kedelai. Diantara berbagai jenis makanan yang dibuat dari kedelai, tahu (tofu) adalah yang paling populer di kalangan masyarakat Jepang.

Menurut Yamaura (2008) dalam Analisis Outlook Pangan 2015 – 2019, sejak akhir 1990-an, tersebar secara luas rasa  ketakutan  di kalangan masyarakat Jepang dengan makanan yang mengandung kedelai GMO. Sejak itu, mereka bertekad untuk tidak  mengkonsumsi makanan dari kedelai  GMO. Untuk memenuhi permintaan konsumen dalam negerinya, Jepang hanya mengimpor kedelai Non GMO untuk kebutuhan industri makanan di negaranya.

Masalah  yang dihadapi Jepang ialah bahwa sekitar 70 persen kedelai yang dikonsumsi oleh Jepang diimpor dari Amerika Serikat. Di sisi lain, di Amerika Serikat lebih dari 90 persen kedelai yang ditanam adalah produk rekayasa genetik (PRG). Sementara itu, mendapatkan pemasok kedelai non rekayasa genetik bukanlah hal yang mudah karena negara – negara penguasa ekspor kedelai lebih dominan menanam kedelai GMO yang biaya produksinya lebih efisien dan produktivitasnya lebih tinggi. Hal inilah yang mengakibatkan Jepang harus membayar lebih mahal untuk mengimport kedelai non GMO (Yamaura, 2008).

Akan tetapi masyarkat Jepang tetap konsisten pada pilihannya. Masyarakat Jepang bersedia membayar lebih mahal makanan yang dibuat dari kedelai Non-PRG. Kondisi ini akhirnya menjadikan Jepang sebagai satu-satunya negara di dunia yang hanya mengimpor kedelai Non-PRG.

 

Sumber Referensi

Anonim. 2014. Analisis Outlook Pangan 2015 – 2019. Jakarta. Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Yamura, K. 2008. Market Power of Japanese Non-GM Soybean Import Market. Master Thesis. Department of Agricultural Economics, College of Agriculture, Kansas State University Manhattan. Kansas.

Sumber Gambar Cover

Https://Www.Alibaba.Com/product-detail/Non-GMO-Soybean-Oil-use-cooking_50034110239.html

One Response

  1. Artikelnya bagus…semoga kedelai loka bisa menjadi tuan rumah sendiri…mencukupi untuk kebutuhan rakyat Indonesia…sehatlah bangsaku jayalah Indonesia

Leave a Reply