Susut Pasca Panen Yang Dapat Terjadi Pada Kedelai

posted in: Berita | 0

Kedelai dapat hilang atau susut selama proses pasca panen yang dimulai dari pemanenan, pengangkutan, pengeringan, alat perontok, dan penyimpanan. Ada dua jenis susut yang dapat terjadi pada kedelai, yaitu susut kuantitatif (bobot) dan kualitatif (mutu). Purwadaria (1989) dalam Suismono dan Harnowo (2014) memprediksi tingkat kehilangan pascapanen kedelai berupa susut tercecer berkisar antara 10–15,5%, sedangkan susut mutu 2,5–8%. Besarnya susut pascapanen yang dilakukan petani beragam menurut cara penanganan pascapanen yang dilakukan.

Studi tentang susut yang terjadi pada kedelai penting untuk dilakukan. Pada jumlah panen yang besar, semakin besar susut yang terjadi maka semakin besar pendapatan petani kedelai yang hilang. Sementara jika ditinjau dari mutu, maka susut mutu dapat berpotensi menurunkan kualitas dan nilai gizi dari produk olahan kedelai yang dihasilkan.

Susimono dan Harnowo (2014) melakukan kajian yang bertujuan untuk menguji metode pengukuran susut pascapanen dan mengetahui keragaan susut pascapanen kedelai mulai panen hingga penyimpanan biji. Pengkajian ini dilaksanakan pada tahun 2012 di dua provinsi sentral produksi kedelai, yakni DI Yogyakarta (Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul) dan Banten (Kabupaten Pandenglang dan Lebak). Pada tiap kabupaten dipilih dua Kecamatan (Susimono dan Harnowo, 2014).      Hasil pengukuran di empat kabupaten sentra produksi menunjukkan bahwa susut pascapanen kedelai rata-rata 5,5%.

                Pengaruh Varietas Terhadap Susut Panen

 Menurut hasil kajian Susimono dan Harnowo (2014), Kedelai Varieatas Anjasmoro memiliki ketahanan polong yang tinggi sehingga paling tidak mudah mudah rontok dibandingkan Kedelai Varietas Makalika, Grobogan, dan Baluran. Susut pada varietas Grobogan dapat mencapai hampir 2% sementara pada varietas Baluran dapat mencapai hampir 3% .

Pengaruh Cara Panen Terhadap Susut Panen

Susut panen tertinggi (2,5%) terjadi jika menggunakan sabit bergerigi, dan terendah (0,2%) terjadi jika panen dilaksanakan dengan mencabut tanaman. Sementara untuk panen kedelai dengan cara memotong pangkal batang tanaman dengan sabit dan/atau parang yang tidak bergerigi menyebabkan susut 1% (Susimono dan Harnowo, 2014).

Tingginya susut hasil karena cara panen menggunakan sabit bergerigi adalah karena tanaman mengalami goncangan dengan intensitas tinggi pada saat panen. Meskipun cara panen dengan mencabut tanaman menghasilkan susut hasil terendah, cara ini tidak dianjurkan karena dapat cara tersebut memungkinkan terbawa/terikutnya akar tanaman. Hal demikian menyebabkan bahan organik (akar tanaman) terangkut ke luar lahan sehingga dapat menurunkan kadar bahan organik tanah (Susimono dan Harnowo, 2014).

Pengaruh Cara Pengangkutan Terhadap Susut Hasil

Pengangkutan brangkasan kedelai menggunakan motor menyebabkan susut hasil (saat pengangkutan) tertinggi, yakni mencapai 1,3%; sementara yang terendah adalah apabila menggunakan gerobak. Kemungkinan yang terjadi adalah, pengangkutan dengan motor biasanya dengan kecepatan/laju lebih tinggi daripada pengangkutan dengan gerobak. Selain itu, brangkasan yang diangkut dengan motor sangat terbuka sehingga lebih memungkinkan brangkasan terjatuh/tercecer, sedangkan brangkasan yang diangkut dengan gerobak lebih tertutut/terhalang untuk kemungkinan tercecer/terjatuh (Susimono dan Harnowo, 2014).

Pengaruh Alat Perontok Terhadap Susut Hasil

Perontokan dengan cara manual (dipukul) menggunakan alat bambu atau pelepah daun kelapa menyebabkan susut lebih banyak dibandingkan menggunakan mesin perontok, yakni dengan nilai masing-masing 2,7% dan 2%. Perontokan kedelai juga dipengaruhi oleh jenis dan luas alas area perontokan (Susimono dan Harnowo, 2014).

Sumber Referensi

Suismono dan Harnowo, D. 2014. Pengkajian Pengukuran Susut PascaPanen Kedelai. Dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi 2014 hal 473 – 479.

Sumber Gambar Cover

Https://Born2Invest.Com/articles/soybean-meal-production-strong-output/

Leave a Reply