Kedelai Lokal Memiliki Rendemen Tinggi

posted in: Acara | 0

Dalam upaya memperkenalkan dan meningkatkan konsumsi kedelai lokal, tim Digital Kedelai Indonesia berkeliling ke berbagai daerah dan bertemu dengan para pelaku usaha pangan berbahan dasar kedelai. Ketika kami menanyakan kenapa mereka jarang atau belum menggunakan kedelai lokal sebagai bahan bakunya, salah satu alasan yang banyak diutarakan adalah kedelai lokal lebih sulit mengembang/babar (dalam bahasa jawa)/bahasa lainnya memiliki rendemen yang rendah. Di mindset mereka tertanam bahwa dengan menggunakan kedelai lokal, produk yang mereka hasilkan akan lebih sedikit.

Ketika kami mengkonfirmasi hal tersebut kepada pemilik produk ATTempe yang menggunakan bahan dasar kedelai lokal, justru faktanya berkebalikan. ATTempe umumnya menggunakan kedelai varietas Grobogan dan Anjasmoro yang memiliki karakter biji besar. Menurut Bu Nungki sang pemilik usaha, rata – rata kedelai yang mereka gunakan dapat mengembang 1,8 kali atau 180%. Jadi jika menggunakan bahan kedelai kering 100kg, maka tempe yang dihasilkan sekitar 180kg. Bahkan pernah di salah satu kesempatan, kedelai yang digunakan mengembang atau memiliki rendemen hingga dua kali lipat.

Pada hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian diketahui bahwa kedelai lokal memiliki rendemen tahu yang tinggi. Pada penelitian tersebut dilakukan pembuatan tahu dengan menggunakan 5 varietas kedelai lokal. Hasilnya diperoleh bahwa rendemen yang dihasilkan bervariasi dari 155-182%. Hal ini menunjukkan bahwa mitos kedelai lokal tidak mengembang untuk produk tahu terpatahkan.

Ada satu catatan penting yang perlu digaris bawahi, meskipun kedelai lokal memiliki rendemen yang tinggi, penanganan pasca panen kedelai untuk konsumsi tetap harus dilakukan dengan baik. Sortasi dan pembersihan kedelai wajib dilakukan agar kedelai yang digunakan layak untuk produksi, bersih, dan tidak merugikan pelaku industri karena banyaknya kotoran atau kedelai yang rusak.

 

Leave a Reply